Menjelajah Sejarah Alat Suntik

Share:

  • Alat suntik dulunya terbuat dari kaca. 
  • Penciptaannya tak lepas dari peran Blaise Pascal.
Sebagian orang ketakutan saat melihat alat suntik. Padahal keberadaannya telah membantu menyelamatkan banyak nyawa dengan menginjeksikan obat ke dalam tubuh manusia

Jika saat ini alat suntik yang beredar kebanyakan berbahan plastik dengan kombinasi karet di bagian penekan, di masa lampaua alat ini terbuat dari kaca dan sempat digunakan untuk operasi katarak dengan cara menghisap katarak di lensa mata.

Alat suntik berbentuk piston pertama kali digunakan di era Romawi. Selama abad pertama, Aulus Cornelous Celsus menyebutkannya untuk melakukan perawatan pada pasien. Catatan penggunaan alat suntik juga ada di Timur Tengah. Ahli bedah Ammar bin Ali al-Mawlisi menciptakan alat suntik pada abad kesembilan yang terbuat dari tabung kaca dan alat pengisap untuk menghilangkan katarak.

Pada era 1650, Blaise Pascal sempat menciptakan alat suntik khusus untuk membuktikan teorinya yang terkenal, hukum Pascal. Bagi yang akrab dengan fisika, teori yang menyatakan bahwa tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar ini menjadi salah satu hukum dasar.

Walau berbagai bentuk alat suntik sudah ada sejak abad pertama, penggunaan alat suntik untuk memasukkan obat ke dalam tubuh baru terjadi pada 1844. Fisikawan asal Irlandia, Francis Rynd menciptakan jarum berlubang dan menggunakannya untuk merawat pasian yang menderita gangguan syaraf, neuralgia.

Saat itu jarum yang dibuat belum semungil saat ini sehingga ditusuk jarum suntik pada masa itu rasanya bisa berkali-kali lipat. Pada 1853, Charles Pravaz dan Alexander Wood mengembangkan alat suntik dengan jarum suntik yang tipis dan tajam untuk menembus lapisan kulit.
Ada kisah memilukan dari ciptaan ini ketika Wood bereksperimen dengan alat ini untuk menginjeksi morfin yang digunakan untuk merawat neuralgia. Wood dan istrinya justru kecanduan morfin. Istri Wood pun dikabarkan meninggal karena overdosis morfin dan membuatnya menjadi perempuan pertama di dunia yang meninggal karena overdosis obat-obatan suntik. Meski begitu beberapa sumber menyebut kematian istri Wood tak benar-benar terjadi dan dia mampu bertahan lebih lama dari sang suami.

Alat suntik kembali mengalami perkembangan pada 1899. Letitia Mumford Geer menerima paten atas alat suntik yang bisa dioperasikan dengan satu tangan. Sejak itu alat suntik semakin populer di dunia medis, seluruh alat suntik yang beredar masih bermaterial kaca  dan digunakan berulang kali. Sampai akhirnya pada 1946 Charles Rothauser menciptakan alat suntik berbahan plastik yang dapat digunakan sekali pakai.

Sejak saat itu, praktis tak ada lagi perubahan berarti dari alat suntik dan alat ini tetap digunakan hingga sekarang. (Purwarupa.net)

Tidak ada komentar