As If, Game Skizofrenia Buatan Dalam Negeri

Share:


  • StoryTale Studio merilis game story telling bertema skizofrenia.
  • Demo game sudah bisa diunduh gratis.

Masih rendahnya kesadaran akan gangguan mental membuat sekelompok pemuda membuat game seputar gangguan kejiwaan. Game berjudul As If ini saat ini masih dalam tahap demo dan penggalangan dana.

Game yang digarap StoryTale Studio ini membawa kita masuk ke dalam sosok Matthew, seorang remaja dengan masa depan cerah yang memiliki segalanya: sahabat baik, ibu yang penyayang, dan ayah yang bisa menjadi teladan. Hidupnya sederhana  sampai dia merasakan keanehan dalam hidupnya.

Matthew mulai mendengarkan suara-suara yang berbicara kepadanya. Perlahan Matthew mulai memercayai suara itu. Skizofrenia perlahan menarik dirinya menjauhi kehidupan yang dicintainya. Dia mulai meragukan kehidupannya, menjauhi sahabat, membuat sosok ibu sebagai seorang yang asing dan memusuhi sang ayah. Gangguan kejiwaan itu pada puncaknya membuat sang karakter tak bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi.

“Dari sini kami ingin menunjukkan, bagaimana harus bersikap jika kita atau anggota keluarga atau ada orang di sekitar kita yang merupakan pengidap (gangguan jiwa),” ujar Technical Director As If, Andreas Andika seperti dilansir laman ITB, Rabu (6/3/2018).

Saat ini versi demo As If yang merupakan bagian pembuka dari lima bagian sudah dapat diunduh di laman mereka dengan skema pembayaran sukarela. Namun versi lengkapnya baru akan dirilis setelah program crowdfunding mereka di Kitabisa.com tercapai.

Pengalaman Personal
Konsep As If rupanya tak muncul begitu saja. faktanya, isu gangguan kejiwaan belum menjadi sorotan. Padahal hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat lebih dari lima juta orang di Indonesia menderita gangguan mental.

Selain itu, setiap anggota tim StoryTale Studio rupanya memiliki alasan masing-masing yang membuat mereka memproduksi game ini. Art director As If, Chandrika N. Dewi mengatakan salah seorang teman dekatnya merupakan pengidap gangguan kejiwaan. Kondisi itu sempat membuat mereka kebingungan bagaimana mesti memperlakukannya. 

Keprihatinan itu memotivasi mereka untuk mengedukasi tentang masalah kejiwaan ini lewat game. “Orang masih susah nerima mereka, bahkan untuk mengerti kondisi mereka pun susah. Padahal kita sebagai orang awam gak tahu apa yang sebenarnya mereka alami. Jadi selama ini banyak orang yang salah paham,” ujar dia. (Purwarupa.net)

Tidak ada komentar