Fosil Archaeopteryx Tertua Ditemukan di Jerman

Share:
Gambar artistik Archaeopteryx (kiri) dan Archaeopteryx yang ditemukan di Bavaria, Jerman (kanan). (Independent/Rauhut)
JERMAN - Sekelompok peneliti di Bavaria, Jerman mengidentifikasi fosil baru dari era Jurassic. Kepala peneliti dan paleontologis Oliver Rauhut seperti dilansir LiveScience menuturkan fosil ini diperkirakan merupakan spesimen Archaeopteryx tertua yang pernah ditemukan.

Archaeopteryx merupakan fauna yang sudah punah dan diperkirakan menjadi penghubung evolusi antara dinosaurus dan burung modern. Penemuan fosil berusia sekitar 150 juta tahun ini menunjukkan fakta baru mengenai keberagaman spesimen Archaeopteryx yang pernah ditemukan, yang kemungkinan terdiri dari berbagai spesies.

Lempengan utuh yang menampilkan Archaeopteryxdan fosil ammonites. (Rauhut, et.al, 2017))
Ketika fosil Archaeopteryx pertama kali ditemukan pada abad ke-19, para paleontologis menyadari adanya kemiripan fauna ini dengan ciri-ciri reptil dan burung. Ciri burung muncul pada keberadaan bulu pada sekujur tubuhnya. Sementara ciri reptil tampak pada kelengkapan barisan gigi pada rahang satwa ini.

Hewan purba seukuran gagak ini pun disebut-sebut sebagai burung tertua yang pernah diteukan. Gelar itu runtuh setelah penemuan fosil lain di Asia menunjukkan Archaeopteryx hayalah satu dari banyak dinosaurus berbentuk burung yang menghuni planet ini jutaan tahun lalu

Pada 2010, seorang kolektor privat menemukan spesimen Archaeopteryx di Gerstner Quarry, di mana turis dapat menggali sendiri fosil mereka. Kolektor ini memberikan informasi kepada Rauhut yang lantas menganalisis fosil tersebut.

Detail cakar Archaeopteryx. (Rauhut, et.al, 2017)
Untuk menentukan usia fosil, peneliti biasanya menggunakan fosil moluska yang disebut ammonites yang ada di sekitar fosil yang ditemukan. Ammonites menjadi standar perkiraan pada era geologis mana spesimen itu berasal. Dari ammonites yang ditemukan di dekat Archaeopteryx itu, diketahui fosil berasal antara era Kimmeridgian dan Tithonian, sekitar 152 juta tahun lalu, selama masa Jurassic. Jika perkiraan ini benar, maka fosil ini menjadi fosil tertua dari 12 fosil Archaeopteryx lain yang pernah ditemukan.

Rauhut yang juga dosen di Ludwig-Maximilian University di Munich, menyebutkan, spesimen ini menunjukkan keberagaman yang luas dari karakteristik fisik hewan ini. Dengan kata lain, fosil yang dianalisisnya merepresentasikan lebih dari satu spesies  Archaeopteryx.

“Variasi yang tinggi pada barisan giginya sangat menarik, ini dapat menunjukkan keberagaman pola makan Archaeopteryx,” urainya. Temuan ini dipublikasikan di Jurnal PeerJ pada 26 Januari 2018.

Tidak ada komentar